Gelap-gelapan di Goa Pindul Gunung Kidul

Begitu banyak destinasi wisata yang terdapat di Daerah Istimewa Yogyakarta, kekayaan alamnya tak habis dinikmati untuk memanjakan diri selama pergi melancong ke daerah tersebut. Kabupaten Gunung Kidul misalnya, menyediakan banyak macam alternatif wisata yang recommended untuk dikunjungi. Tak hanya pantai, kali ini saya dan teman-teman meluncur ke Goa Pindul untuk menikmati cave rafting.

Selamat Datang di Goa Pindul

Selamat Datang di Goa Pindul

Dengan jarak tempuh sekitar 40 menit dari hotel kami di kawasan Malioboro, saya janjian dengan penyedia jasa wisata Goa Pindul di Alun-alun Kecamatan Wonosari, Gunung Kidul. Tidak lama kami menunggu, seseorang bermotor menjemput kami, dan kendaraan yang kami tumpangi pun mengikuti motor tersebut. Melewati jalanan perkampungan yang sempit dan berkelok, akhirnya kami tiba di Wirawisata Goa Pindul.

Sugeng Rawuh! :)

Sugeng Rawuh! :)

Sesampainya di pintu masuk, kami membayar harga tiket masuk seharga Rp 30.000,- kami dipersilakan untuk ‘berganti kostum’ mengenakan pakaian yang akan kami pakai untuk rafting. Setelah berganti baju di tempat yang telah disediakan, kami pun dibebaskan untuk memilih pelampung, sepatu, dan ban udara yang akan kami gunakan selama rafting nanti. Kami tidak sabar untuk segera meluncur ke sungai, saya pikir jarak tempat administrasi dan Goa Pindul itu bersebelahan, ternyata tidak! Kami diajak untuk berjalan kaki melewati rimbunan pepohonan sambil membawa ban udara yang ekstra besar.

Bulan Yuandani, 21 Tahun, Mahasiswi :P

Bulan Yuandani, 21 Tahun, Mahasiswi :P

Di lokasi awal, kami dipandu untuk menaiki ban udara yang kami bawa. Saya kira naiknya gampang, ternyata lumayan juga! Jika kurang hati-hati, bisa-bisa kita kita nyebur sebelum peperangan! :P kami juga dipersilakan untuk membawa kamera selama kegiatan cave rafting berlangsung. Saya kembali berpikir, apa kameranya gak akan nyemplung? Tenang saja! Selama kita mematuhi prosedur yang dikeluarkan pemandu, kejadian tersebut tidak akan sampai terjadi. Saya pun merasa tenang, terlebih, kelompok orang yang melewati kami malah membawa gadget yang lain seperti Mp3 player dan henfon, mungkin sedang update location di Path mereka! :P

Siap Mengarungi Goa! :mrgreen:

Siap Mengarungi Goa! :mrgreen:

Setelah semua siap, kami pun meluncur! Dengan mengandalkan dayung kaki, kami mulai memasukki goa. Perlahan namun pasti, pemandu menjelaskan bahwa kami akan melalui 3 lokasi didalam goa, yaitu wilayah terang, wilayah remang-remang, dan wilayah kegelapan abadi.

Stalaktit didalam Goa

Stalaktit didalam Goa

Didalam goa, terdapat stalaktit dan stalakmit yang menjulang, terbentuk karena tetesan air selama jutaan tahun lamanya, terdapat batu tirai yang sangat besar. Kenapa disebut batu tirai? Karena stalaktit yang terbentuk menyerupai tirai! :P Terdapat juga batu stalakmit yang sangat besar ditengah-tengah goa yang menjorok ke air. Kami pun memasuki wilayah kegelapan abadi. Jangan harap bisa melihat sesuatu didalam sana, asli gelap gulita! Asyik banget! Jadi tidak sabar untuk mengetahui hal apa yang akan terjadi di wilayah lainnya!

Batuan Tirai

Batuan Tirai

Didalam goa juga terdapat batu yang konon dapat meningkatkan keperkasaan pria. Perlu dicoba nih, meskipun kevalidan dari mitos tersebut belum tentu shahih, saya hanya menanggapi hal tersebut sebagai hiburan semata ;) bau kotoran kelelawar pun menyerang, saya arahkan blitz kamera keatas. Disana terdapat beberapa ekor kelelawar, hidup kelelawar yang memang menyukai tempat kegelapan, jangan heran bila terkena kotoran kelelawar saat berkunjung ke goa Pindul! :mrgreen:

Kotoran Kelelawar? Iyuuwk! :|

Kotoran Kelelawar? Iyuuwk! :|

Bersiap Untuk Nyebur! :D

Bersiap Untuk Nyebur! :D

Sampailah kami di tempat yang direkomendasikan untuk berenang. Ditempat tersebut terdapat lubang yang memancarkan cahaya matahari masuk kedalam goa. Tidak tunggu lama, kami pun ditantang untuk melompat dari ketinggian dan nyebur ke sungai!

Fidi Fitriadhi, 21 Tahun, Mahasiswa :P

Fidi Fitriadhi, 21 Tahun, Mahasiswa :P

Airnya Sejuk Banget!

Airnya Sejuk Banget!

Setelah puas ‘atraksi’ loncat dari ketinggian, kami pun melakukan body rafting sampai keluar goa. Airnya sejuk dengan kedalaman yang tidak bisa saya rasakan dengan kaki.

Berenang-renang Ketepian

Berenang-renang Ketepian

Kami pun berenang sejenak di lokasi tempat keluar goa.

Asyik Banget!

Asyik Banget!

Setelah keluar dari lokasi goa, kami dipersilakan untuk naik keatas dan pulang dari lokasi. Cara yang recommended untuk naik keatas bendungan adalah dengan menggunakan tali yang tersedia di area. Biar gaya kayak pendaki gitu! :P

Naik.. Naik.. Keatas Bendungan

Naik.. Naik.. Keatas Bendungan

Kami dijemput dengan menggunakan mobil bak terbuka dan diantar sampai ke lokasi administrasi. Tempat pertama kami datang ke goa Pindul.

Kayak Tawanan Ya! :|

Kayak Tawanan Ya! :|

Perjalanan yang lumayan melelahkan, sesampainya di lokasi administrasi, kami pun kembali berganti kostum dan dipersilakan untuk menikmati wedang jahe yang dapat menghangatkan tubuh setelah berlama-lama nyebur di air.

Sampai Jumpa Goa Pindul! :wave:

Sampai Jumpa Goa Pindul!

Sebelum berniat pergi ke goa pindul, lebih baik melakukan reservasi terlebih dahulu. Di Wirawisata Goa Pindul ini terdepat 2 alternatif rafting. Ada cave rafting seperti yang saya nikmati (Harga Rp 30.000,-) atau river rafting (Harga Rp 40.000,-), bisa juga menikmati kedua-duanya dengan akumulasi harga tersebut. :) Saya dapat informasi dari teman, bahwa nomor kontak yang dapat dihubungi untuk reservasi adalah Haris Purnawan, 0859596565561. Pembaca yang berniat berwisata ke Goa Pindul, dapat menghubungi nomor tersebut! ;)

Merasakan Deg-degan di Sungai Elo Magelang

Menikmati liburan di Jogja bisa dilakukan dengan berbagai alternatif destinasi yang tersedia di kota gudeg tersebut. Mulai dari berbelanja di kawasan jalan Malioboro, mencari busana di pasar Beringharjo, pergi ke museum atau keraton, pergi ke kawasan Gunung Kidul untuk menikmati pantainya, sampai menenangkan diri di candi. Jika merasa bosan dengan hal-hal tersebut, cobalah wisata yang satu ini di daerah Magelang. Dijamin, kegiatan ini bisa memacu adrenalin! :)

Bersiap untuk Meluncur! :mrgreen:

Bersiap untuk Meluncur! :mrgreen:

Sungai Elo, salah satu tempat wisata andalan Kabupaten Magelang ini menawarkan wisata kegiatan rafting yang pastinya dapat membuat jantung berdegup lebih kencang dari biasanya. Ditempuh sekitar 45 menit dari kota Jogjakarta, rasanya tidak sabar saya dan teman-teman untuk segera sampai di tempat tujuan.

Bergaya Dulu! :P

Bergaya Dulu! :P

Setelah sampai di tujuan, saya dan teman-teman dibimbing untuk mengenakan pelampung dan pengaman lainnya agar selamat selama rafting berlangsung. Kami dibiarkan untuk memilih pelampung, helm, dan dayung mana yang akan kami gunakan untuk rafting. Sebelum terjun ke sungai, para pembimbing menjelaskan kepada kami tentang sungai Elo, mulai dari arus, rintangan yang akan kami hadapi, sampai larangan yang tidak boleh kami lakukan selama di sungai. Setelah penjelasannya selesai, para pembimbing memberikan pelatihan singkan tentang tata cara penggunaan pelampung, penggunaan dayung yang benar, posisi duduk di perahu karet, sampai teknik-teknik menyelamatkan diri dan orang lain jika tercebur ke sungai.

Setelah Berganti Kostum

Setelah Berganti Kostum

Setelah melakukan pemanasan, kami langsung meluncur ke sungai. Kami memilih perahu karet mana yang harus kami pergunakan, satu perahu karet diisi maksimal oleh 6 orang. Kami terbagi menjadi formasi 5-5-5 karena jumlah kami 15 orang. 3 perahu karet dari Bandung siap meluncur! Dimulai dengan bismillah, adrenalin langsung terpacu karena derasnya aliran sungai Elo membuat jantung saya berdegup kencang. Saya melirik jam tangan, waktu menunjukkan pukul 13.14 siang.

Deras sungainya bikin deg-degan!

Deras sungainya bikin deg-degan!

Tak hanya menikmati derasnya sungai, saya pun menikmati suguhan pemandangan yang memanjakan mata. Dimulai dengan rindangnya pepohonan, hamparan sawah, bebatuan yang tinggi menjulang, dan indahnya air terjun kecil yang terdapat dibeberapa titik sungai Elo. Meskipun pemandangan yang tidak mengenakan sering kali kami temui, yaitu sampah, orang yang buang air, dan orang mandi. Malah, teman saya yang berada di tengah (foto diatas, cewek satu-satunya yang akrab dipanggil Ira) tercebur ke sungai gara-gara memerhatikan orang yang sedang mandi! :lol: menurut pembimbing kami, hal tersebut sering kali terjadi, karena kami memilih shift siang, jam nya orang-orang mandi sore! Kegiatan rafting tersedia 2 shift perhari, yaitu shift pagi (dari pagi sampai siang) dan shift siang (dari siang sampai sore).

si team yang selalu menang :|

si team yang selalu menang :|

Kegiatan yang pastinya asyik dilakukan adalah balapan mendayung perahu karet, dari ketiga perahu yang beradu cepat, perahu kami selalu yang paling terakhir. Ditambah, jika dibandingkan dengan kedua perahu yang lain, perahu kami lah yang selalu nyangkut di bebatuan, malah sampai terbalik. :| meskipun begitu, tim kami selalu dihujani pujian oleh pembimbing lain karena kerja sama tim yang kompak. Kenapa kompak? Karena jika jatuh ke sungai, ya semuanya jatuh! :mrgreen: Sungguh kegiatan yang mengasyikan meskipun kami harus selalu dituntut waspada dengan keselamatan.

se-dada bebek! :lol:

airnya sejuk! ;)

Tidak lupa untuk memanjakan jasa wisata nya, pembimbing kami menjelaskan jika beberapa titik di sungai Elo dapat digunakan untuk berenang. Kami pun mencoba ‘nyebur’ dan berengang mengikuti arus. Pembimbingnya ramah dan mampu memecah suasana, terbukti ketika teman saya bertanya berapa kedalaman sungai yang kami gunakan untuk ‘nyemplung’ beliau menjawab:

“ah dangkal kok! Liat tuh bebek aja cuma se-dada!”

Kamipun tertawa cekikikan.

Kiri: Si Erik Gembul

Kiri: Si Erik Gembul :lol:

Setengah perjalanan, kami pun menepi dan disuguhi dengan berbagai makanan yang disediakan oleh penyedia jasa rafting. Mulai dari gorengan, lontong, puding, dan minuman favorit saya: Degan! Setelah sekitar 10 menit melepas lelah, kami kembali menempuh derasnya sungai Elo. Malah lebih deras dan berbatu.

Perjalanan Terakhir! :D

Perjalanan Terakhir! :D

Akhirnya kegiatan rafting beres, saya kembali melirik jam tangan, waktu menunjukkan pukul 17.19 sore. Menurut informasi yang saya dapatkan, shift pagi dimulai dari jam 8 pagi dan berakhir jam 12 siang. Sementara untuk shift siang dimulai dari jam 1 siang dan berakhir jam 5 sore, jarak tempuh sungai sekitar 6 kilometer. Dengan biaya Rp 100.000/orang, peserta mendapatkan transportasi antar-jemput dari hotel ke titik awal kegiatan rafting (karena kami menginap di Magelang), perlengkapan rafting serta pengaman, pelatihan mengenai rafting, pembimbing perjalanan yang ramah selama di sungai, snack, keamanan barang bawaan, fotografer yang mengambil gambar-gambar diatas, dan pastinya pengalaman! Saya rasa harga tersebut tidak sebanding dengan pengalaman dan kepuasan yang didapatkan.

Hasil Pencarian di Google

Hasil Pencarian di Google

Jika berniat melakukan kegiatan rafting, jangan lupa reservasi terlebih dahulu. Karena kami memilih paket hotel yang disertakan dengan paket rafting, jadi kami tidak perlu repot mencari nomor kontak yang bisa dihubungi. Tapi jangan khawatir! Setelah saya cari di internet dengan keyword “Rafting Sungai Elo Magelang” ternyata ada banyak nomor kontak penyedia jasa wisata rafting yang bisa hubungi. Lengkap dengan harga dan fasilitas yang didapatkan. Tertarik untuk ‘deg-degan’ di sungai Elo Magelang? ;)

 

 

Somethings that I don’t know why

Akhir-akhir ini saya sering berpikir. Melamun sendiri, tanpa tahu sebenarnya apa yang menyebabkan saya terlarut dalam lamunan tersebut. Pikiran saya bercabang, memikirkan kuliah, memikirkan orang tua, memikirkan pelabuhan hati. Jujur, saya sering kali galau memikirkan hal-hal yang disebutkan diatas. Alternatif yang bisa saya lakukan hanya lari, lari dari semua itu.

Sabtu, 4 mei 2013, setelah saya mengikuti ujian praktikum di kampus, saya memutuskan untuk kabur dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. Saya pergi ke Gunung Puntang, Kecamatam Cimaung, Kabupaten Bandung. Jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi rumah saya (Kecamatan Banjaran), hanya sekitar 20 kilometer, saya menggunakan transportasi angkot dari terminal Banjaran. Tanpa planning yang jelas, hanya alasan yang membuat saya memutuskan untuk pergi berkemah sendiri: Lari!

Di perjalanan angkot menuju Gunung Puntang, saya bertemu dengan seorang pria, mungkin umurnya 40 tahun, saya pikir. Beliau mengenalkan diri, namanya Iwan, berasal dari Majalengka. Dengan membawa tas carrier, pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tanpa mau mengintervensi, saya hanya mengobrol ringan dengan pria tersebut. Kami pun memutuskan untuk pergi bersama, terlebih beliau juga pergi sendiri.

Setelah sampai di lokasi, kami langsung mencari tempat yang memungkinkan untuk didirikan tenda. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di dekat kolam cinta, di sekitar lokasi pendirian tenda kami, telah berdiri 2 tenda, masing-masing ditempati oleh 2 laki-laki dan 2 perempuan berkerudung. Mungkin teman kuliah atau kerjanya, saya pikir. Kami pun meminta izin untuk mendirikan tenda didekat kedua tenda tersebut. Dan dari sinilah pelajaran yang saya dapatkan bermula.

Jam telah menunjukkan pukul 3 sore, tidak ada tanda-tanda HP saya berdering atau berkedip merah. Menanti orang yang saya tunggu untuk memberi kabar melalui LINE Messenger atau Blackberry Messenger. Sudah 2 minggu! Keluh saya, saya pun tidak memberanikan diri untuk duluan menyapa, memang apa yang saya lakukan? Berdiam diri? Tidak! Selama selang waktu 2 minggu saya menunggu, saya telah mencoba menanyakan, kemana gerangan dia pergi. Namun kali ini cukup! Saya pun keluar dari tenda, sejenak melupakan keluh kesah ketidakjelasan orang yang saya tunggu.

Pak Iwan sedang mengobrol dengan kedua perempuan tadi, namanya Rina dan Syifa. Mereka berasal dari Tasik, namun berkuliah di Bandung. Alasan mereka datang ke Gunung Puntang karena sedang tidak ada kegiatan di kampus. Ternyata saya salah taksir, mereka merupakan mahasiswi angkatan 2011, setahun lebih muda dari saya. Kamipun melanjutkan mengobrol, mulai dari menceritakan sudah berapa lama mereka di gunung, mereka pergi ke tempat ini dari sabtu pagi, kemudian menceritakan daerah asal Rina dan Syifa, kegiatan kuliah kegiatan kampus, pak iwan pun sedikit ‘menyentil’ urusan asmara mereka. Saya hanya tersenyum, dan kembali mengingat dia, salah satu alasan yang membuat saya pergi ke tempat ini.

Selang beberapa menit, kedua laki-laki yang mendirikan tenda di sebelah kami pun datang. Mereka baru pergi dari warung membeli rokok. Mereka mengenalkan diri mereka, Firman dan Satria asal Bandung, keduanya adalah teman sekampus di Jogja. Dan baru bertemu lagi setelah 2 tahun berpisah karena Firman bekerja di Kalimantan dan Satria bekerja di Jakarta. Kami mulai membaur dan menceritakan pengalaman masing-masing mengenai gunung. Ternyata bila dibandingkan dengan mereka, pengalaman saya mengenai gunung mungkin baru 2 kali, namun mereka telah hilir mudik naik turun gunung minimal 5 kali. Begitupun Rina, terakhir Rina mengaku naik gunung Gede Pangrango, sementara Syifa memang baru pertama kali. Saya hanya menceritakan pengalaman backpacking saya, yang bisa jadi kebanggaan bahwa saya pernah pergi ke Kota Malang hanya sendiri! :mrgreen:

Malam mulai tiba, kami berencana membuat hidangan makan malam berdasarkan bahan makanan yang kami bawa. Saya mengeluarkan beras dan ikan yang saya beli sebelum pergi. Kami pun bekerja sama untuk membuat makanan, dengan koki utama Syifa dan Rina, sementara kami hanya membantu jika dibutuhkan! :P suasana makin akrab setelah hal lucu terjadi, ketika akan membuat telur dadar, salah satu telur yang akan dibuat merupakan telur busuk, telur busuk itu tumpah diatas nasi yang telah jadi. Padahal tadinya telur tersebut akan digunakan untuk membuat nasi goreng.

Semakin malam, kami semakin terlarut dalam obrolan. Pak Iwan mulai menceritakan alasan utama kenapa dia pergi ke gunung.

“Istri saya ingin bercerai dengan saya..”

Suasana langsung hening mendengar pernyataan pak Iwan.

Peliknya Kehidupan Buruh

Hari Buruh pada umumnya dirayakan pada tanggal 1 Mei, dan dikenal dengan sebutan May Day. Hari buruh ini adalah sebuah hari libur (di beberapa negara) tahunan yang berawal dari usaha gerakan serikat buruh untuk merayakan keberhasilan ekonomi dan sosial para buruh.

Sejarah Hari Buruh

May Day lahir dari berbagai rentetan perjuangan kelas pekerja untuk meraih kendali ekonomi-politis hak-hak industrial. Perkembangan kapitalisme industri di awal abad 19 menandakan perubahan drastis ekonomi-politik, terutama di negara-negara kapitalis di Eropa Barat dan Amerika Serikat. Pengetatan disiplin dan pengintensifan jam kerja, minimnya upah, dan buruknya kondisi kerja di tingkatan pabrik, melahirkan perlawanan dari kalangan kelas pekerja.

Sumber: Wikipedia

—————————————————————————————————–

Apa itu outsourcing?

Bila merujuk pada Undang Undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, Outsourcing (Alih Daya) dikenal sebagai penyediaan jasa tenaga kerja seperti yang diatur pada pasal 64, 65 dan 66. Dalam dunia Psikologi Industri, tercatat karyawan outsourcing adalah karyawan kontrak yang dipasok dari sebuah perusahaan penyedia jasa tenaga outsourcing. Awalnya, perusahaan outsourcing menyediakan jenis pekerjaan yang tidak berhubungan langsung dengan bisnis inti perusahaan dan tidak mempedulikan jenjang karier. Seperti operator telepon, call centre, petugas satpam dan tenaga pembersih atau cleaning service.Namun saat ini, penggunaan outsourcing semakin meluas ke berbagai lini kegiatan perusahaan.

Dengan menggunakan tenaga kerja outsourcing, perusahaan tidak perlu repot menyediakan fasilitas maupun tunjangan makan, hingga asuransi kesehatan. Sebab, yang bertanggung  jawab adalah perusahaan outsourcing itu sendiri.

Meski menguntungkan perusahaan, namun sistem ini merugikan untuk karyawan outsourcing. Selain tak ada jenjang karier, terkadang gaji mereka dipotong oleh perusahaan induk. Bayangkan, presentase potongan gaji ini bisa mencapai 30 persen, sebagai jasa bagi perusahaan outsourcing. Celakanya, tidak semua karyawan outsourcing mengetahui berapa besar potongan gaji yang diambil oleh perusahaan outsourcing atas jasanya memberi pekerjaan di perusahaan lain itu.

——————————————————————————————————-

Pemanfaatan Panel Surya di Papan Reklame

Logo MBA ITB

Pengertian Technopreneur

Istilah Technopreneur adalah gabungan antara technology dan entrepreneur. Entrepreneur sendiri bermakna, seorang individu atau kelompok yang memiliki keahlian dalam menggali ide baru, dan berinovasi untuk menciptakan sebuah produk pembeda dari produk lain yang lebih dahulu hadir di pasaran. Bisa disimpulkan bahwa Technopreneur adalah kegiatan entrepreneur yang menggunakan aspek teknologi sebagai landasan usahanya.

Bidang kajian para pelaku technopreneur ini cakupannya luas, mulai dari teknologi informasi, energi, pertanian, perairan, sampai sumber daya alam. Salah seorang contoh technopreneur yang telah terkenal di dunia adalah Mark Zuckerberg, pendiri  jejaring sosial Facebook. Ia telah memanfaatkan teknologi informasi sebagai media entrepreneur nya menjadi ladang profit yang menguntungkan tidak hanya untuk dirinya sendiri, melainkan bagi banyak orang diseluruh dunia.

Latar Belakang Gagasan

Pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipungkiri telah berperan besar terhadap perubahan pola hidup masyarakat di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia. Pola hidup masyarakat yang konsumtif memaksa para produsen untuk lebih berpikir keras dalam memasarkan produk yang mereka ciptakan. Berbagai upaya dilakukan agar produk yang mereka hasilkan dapat dipakai, atau minimal dikenal masyarakat, juga agar produknya tidak kalah bersaing dengan produsen yang menawarkan produk sejenis. Alternatif yang dipilih untuk mendukung langkah ini adalah dengan memanfaatkan media komersil. Mulai dari media elektronik, seperti mengiklankan produk di TV, radio, atau internet. Media cetak dengan mengiklankan produk di koran, majalah, atau flyer. Hingga media periklanan lainnya seperti papan reklame.

Papan Reklame Menghiasi Jalanan Sumber: peluang-usaha.pelapak.com

Papan Reklame Menghiasi Jalanan
Sumber: peluang-usaha.pelapak.com

Posisi dan lokasi yang strategis papan reklame adalah pemikat utama para perusahaan memercayakan produknya dipasarkan melalui media tersebut. Para penyedia jasa papan reklame pun tentu melirik hal tersebut sebagai modal utama untuk lahan bisnisnya. Agar menarik banyak konsumen yang ingin memakai jasa mereka, penyedia jasa papan reklame biasanya memasang iklan di pinggir jalanan dan tempat ramai. Karena itulah papan reklame lebih banyak terdapat di daerah pinggiran jalan perkotaan, karena akan lebih banyak orang yang melihat media iklan yang ditampilkan dalam papan reklame tersebut. Meskipun tidak dipungkiri, papan reklame telah ramai menghiasi pinggiran jalan sampai daerah perkampungan sekalipun.

Harga yang relatif murah, dengan durasi pemasangan yang lebih lama dibandingkan dengan media elektonik, menjadi bahan pertimbangan yang lebih menggiurkan bagi para pemakai jasa papan reklame untuk mempromosikan produknya. Bila semakin banyak konsumen yang ingin produknya dipromosikan melalui papan reklame, orang atau kelompok penyedia jasa papan reklame pun akan bertambah, sehingga akan semakin banyak pula papan reklame menghiasi jalanan.

Sumber: mediareklame76.blogspot.com

“Polusi Pemandangan”
Sumber: mediareklame76.blogspot.com

Seiring dengan banyaknya pertumbuhan papan reklame di pinggiran jalan, banyak pula masyarakat yang mengeluhkan bahwa kehadiran papan reklame akan menambah rusaknya suasana kota, sehingga dianggap sebagai polusi pemandangan. Dengan ukuran yang beragam, mulai dari yang terkecil, sampai papan yang dapat menutupi satu gedung sekalipun, sering kali membuat kehadiran papan reklame diresahkan banyak orang. Seperti kekhawatiran masyarakat akan keselamatan yang mengancam jiwa mereka, karena banyak kasus papan reklame runtuh jika hujan angin melanda. Juga pemborosan energi jika papan reklame tersebut berdiri, karena kehadirannya membutuhkan energi yang tidak sedikit untuk menerangi atau membuat tampilan papan reklame tersebut menjadi lebih atraktif.

Panel Surya (Solar Cell) Sumber: energisurya.wordpress.com

Panel Surya (Solar Cell)
Sumber: energisurya.wordpress.com

Panel Surya / Solar Cell

Panel surya atau yang lebih populer disebut solar cell adalah sebuah alat berbentuk papan yang dapat mengkonversi sinar matahari menjadi energi listrik. Salah satu inovasi energi ini mulai populer setelah merebak isu permasalahan menipisnya bahan bakar fosil, global warming, dan efek rumah kaca. Juga karena energi yang dihasilkan oleh panel surya didapatkan secara cuma-cuma, yaitu dengan memanfaatkan sinar matahari yang hadir setiap hari menyinari bumi, membuat banyak orang mulai beralih menggunakannya.

Perumusan Gagasan

Dari latar belakang yang telah dijelaskan, seorang technopreneur diharuskan melirik hal tersebut sebagai peluang kreasi entrepreneur-nya. Technopreneurship dapat menjadikan hal yang telah lama ada menjadi hal yang baru, lebih kreatif, lebih inovatif, dapat berguna bagi orang banyak, mengandalkan aspek teknologi, dan tentunya menghasilkan profit. Menjawab tantangan tersebut, tercetuslah gagasan untuk menggabungkan media iklan papan reklame dengan teknologi panel surya.

Implementasi Papan Reklami Dengan Panel Surya

Implementasi Papan Reklame Dengan Panel Surya

Cara Kerja

Karena panel surya harus terpapar secara langsung oleh sinar matahari dan tidak boleh terhalangi sesuatu, panel surya diletakan diatas papan reklame. Sinar matahari yang memapari panel surya, akan dikonversi menjadi energi yang ditampung kedalam accumulator. Accumulator tersebut berfungsi sebagai sumber pasokan energi listrik yang berguna bagi berbagai hal yang memerlukan konsumsi energi listrik.

Karena panel surya tidak menangkap semua paparan sinar matahari menjadi energi listrik, yaitu hanya sekitar 40-65% sinar matahari yang dapat diserap menjadi energi listrik, dan bergantung dengan ukuran dimensi panel surya tersebut. Diasumsikan:

  • Lamanya sinar matahari menyinari bumi, yaitu dari jam 7 pagi hingga jam 5 sore (10 jam)
  • Asumsi keinginan energi listrik yang didapatkan sebanyak 2000w (20KWh/hari)
  • Asumsi dimensi   panjang   atap papan reklame adalah 480 cm, berarti dimensi panjang dan lebar panel surya adalah 20 cm sebanyak 24 sel. Sel panel surya yang biasa terdapat dipasaran berkapasitas 210WP.
  • Dengan lamanya panel surya mengkonversi energi matahari kedalam accumulator, diambil dari skala terkecil panel surya mampu mengkonversi energi panas matahari, yaitu 40% (4 jam perhari)

Berarti energi yang dapat dikumpulkan oleh panel surya adalah:

  • = 4 jam energi matahari, 24 sel panel surya, 210 watt kapasitas panel
  • = 4 x 24 x 210 = 20160 Watt*

Accumulator yang dibutuhkan untuk menampung konversi energi ini adalah sebanyak  3 buah  accumulator 75 volt dengan  kapasitas masing-masing accumulator sebesar 100Ah.

*sumber : http://www.panelsurya.com

Energi tersebut sebanding dengan energi genset yang dapat menghidupi satu rumah berenergi 1600 watt selama 10 jam. Energi dapat ditingkatkan tergantung dengan ukuran kapasitas penangkap energi  dari panel surya, lamanya sinar matahari menyinari bumi, dan jumlah unit serta besaran voltase yang dimiliki oleh accumulator, sehingga energi yang dipasok dapat menghidupi satu rumah selama 24 jam lamanya. Bayangkan bila langkah ini diterapkan disetiap papan reklame, bisa jadi energi rumah dapat sepenuhnya dipasok dari gagasan ini.

Keuntungan

Berikut merupakan keuntungan-keuntungan jika gagasan tersebut diimplementasikan:

  1. Papan reklame jadi berguna, selain untuk media promosi
  2. Dapat menjadi solusi energi terbarukan
  3. Mengurangi jumlah penggunaan sampai tidak menggunakan sama sekali bahan bakar fosil untuk menghasilkan listrik
  4. Mencegah global warming dan efek rumah kaca
  5. Energi matahari yang di konversi tersedia secara cuma-cuma
  6. Panel surya tidak menimbulkan polusi udara ataupun polusi suara
  7. Memanfaatkan lahan yang tersedia di papan reklame, tidak perlu membuat lahan baru

Kesimpulan

Dengan dicetuskannya gagasan ini, diharapkan dapat menjadi jawaban, alternatif apa yang harus digunakan untuk menggantikan bahan bakar fosil sebagai media pasokan sumber energi listrik. Keluh-kesah masyarakat mengenai papan reklame yang mengacaukan pemandangan mungkin teratasi, mengingat kontribusinya dalam hal ini yang sangat berguna untuk menyokong kebutuhan energi mereka. Meski seperti yang diketahui bahwa biaya panel surya tidaklah murah, namun investasi  tersebut sebanding dengan kesulitan apa yang akan ditimbulkan jika manusia hidup tanpa energi listrik. Indonesia sebagai negara berkembang harusnya menyadari hal ini dari jauh-jauh hari, mengingat Indonesia adalah salah satu negara yang menghasilkan dan mengkonsumsi energi dalam skala besar. Kehadiran technopreneurship di Indonesia juga diharapkan dapat membantu memajukan Indonesia agar tidak kalah bersaing dengan negara berkembang lainnya, dan meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia menjadi lebih makmur.

————————————————————-

Artikel ini diikut sertakan dalam MBA ITB Blog Competition. Fan Facebook Page lomba ini dapat dilihat disini.

Statement of Disclaimer

I hereby declare that my article entitled “Pemanfaatan Panel Surya di Papan Reklame” is a work of its own and has not been submitted in any form to any competition or social media posting. Sources of information derived or quoted from published and unpublished works from other authors mentioned in the text. If I am caught doing plagiarism or any other cheating attempt. I am ready for the consequences, as my winning rights are revoked.

Bandung, April 2013

Muhammad Nafis Mudhoffar

Pemanfaatan Biopori Untuk Mengatasi Banjir

Banjir... :(

Banjir… :(

Banjir, jalur yang setiap hari harus saya lalui ketika hendak pergi ke kampus. Jalur Baleendah – Dayeuhkolot selalu ingin saya ‘skip’ jika banjir datang, dan hujan adalah berkah yang ingin saya khianati jika mengingat bahwa keesokan harinya saya harus datang telat ke kampus karena bergelut dengan macet akibat banjir.

Permasalahan banjir tidak hanya dirugikan oleh warga ibu kota Jakarta. Saat ini, bencana tersebut juga telah merugikan banyak daerah di Indonesia, termasuk wilayah kabupaten Bandung Selatan dan sekitarnya.

Jika merunut permasalahan penyebab banjir, semua orang setuju bila bencana tersebut salah satunya diakibatkan oleh sampah, baik itu sampah industri maupun sampah rumah tangga. Dan salah satu hal yang dapat mengurangi permasalahan sampah, sekaligus memperbaiki lingkungan agar tidak menyebabkan banjir adalah dengan memanfaatkan teknologi lubang resapan biopori.

Lubang Biopori (Sumber: Ristek.go.id

Lubang Biopori (Sumber: Ristek.go.id)

Lubang resapan biopori adalah lubang kecil berpori didalam tanah yang terbentuk oleh kegiatan organisme didalam tanah, seperti akar tanaman, cacing, rayap, dan hewan-hewan kecil yang memiliki aktivitas organisme di dalam tanah lainnya. Pori-pori yang terbentuk oleh kegiatan organisme tersebut dapat meningkatkan kemampuan tanah untuk menahan air dengan sirkulasi air dan oksigen langsung kedalam tanah. Biopori tersebut dapat membuat tanah menjadi gembur. Aktivitas biopori biasanya berlangsung didalam tanah yang masih alami, namun karena kegiatan pembangunan dan pengolahan tanah lainnya yang dilakukan oleh manusia, aktivitas ini tidak berjalan semestinya. Teknologi biopori dicetuskan oleh Dr. Kamir R Brata, salah seorang peneliti dari Institut Pertanian Bogor.

Cara Kerja Lubang Biopori

Cara Kerja Lubang Biopori

Keunggulan lubang resapan biopori yaitu dapat membuat sampah organik menjadi kompos. Limbah rumah tangga yang sebagian besar didominasi oleh sampah organik dapat dibuang kedalam lubang biopori. Selanjutnya, sampah-sampah tersebut akan ‘memanggil’ organisme yang berada didalam tanah. Para organisme ini akan melakukan ‘perjalanan’ menuju sampah organik, dengan otomatis akan melubagi tanah-tanah sehingga terciptalah pori-pori yang dapat menampung air resapan kedalam tanah, juga menyimpan cadangan air bila kemarau tiba. Organisme tersebut akan melakukan dekomposisi terhadap sampah organik yang dimasukkan kedalam lubang resapan biopori, aktivitas ini akan menghasilkan kompos.

Pembuatan lubang biopori dapat diimplementasikan didekat pembuangan air seperti selokan atau sungai. Lubang biopori berbentung silinder berdiameter 10 cm dengan kedalaman 100 cm sampai 1 meter, atau tidak melampaui kedalaman air tanah. Lubang tersebut dapat menampung hingga 8 liter sampah organik (sebanding dengan sampah organik rumah tangga sampai 4 hari/rumah) dalam selang waktu 2 – 3 bulan, sampah tersebut akan berubah menjadi kompos.

Proses dekomposisi tersebut dapat mengurangi terbentuknya gas metan yang dapat menghasilkan efek rumah kaca, air yang diresap dalam kegiatan ini dapat menampung 80 cm2, tergantung besaran diameter dari lubang biopori yang dibuat. Semakin banyaknya lubang biopori dibuat, maka dapat membantu penyerapan air lebih banyak, artinya bencana seperti banjir dan tanah longsor dapat terhindar.

Banyak keuntungan yang dapat diambil dari lubang biopori, selain kegiatan membuang sampah organik, hasil dari proses dekomposisi sampah tersebut dapat digunakan sebagai pupuk kompos tanaman, membantu tanah kembali menjadi gembur, menyerap air kedalam tanah selakigus meningkatkan cadangan air bersih ketika kemarau tiba, mencegah genangan air dan banjir, mencegah erosi dan longsor, membantu penyuburan tanah, juga membantu menjaga lingkungan karena mengurangi gas metan yang dapat menghasilkan efek rumah kaca.

Semoga informasi ini berguna bagi para pembaca, dan dapat diimplementasikan di rumah. Dengan begitu, banjir tidak akan menghalangi aktivitas keseharian kita.

Bandung? Surganya Kuliner!

Menyambung dari post sebelumnya, saya melanjutkan perjalanan untuk mencari makan. Kota Bandung dan Makanan! Keduanya memiliki korelasi yang sangat dekat. Apa yang membuat Bandung dikenal, selain factory outlet dan bangunan bersejarahnya? Ya pasti tempat makan! :mrgreen:

Dari daerah Tegalega, saya langsung tancap gas ke kawasan Buah Batu. Buah Batu jaman dulu sih dikenal dengan kawasan anak “gahoelz” Bandung! Kenapa engga? Soalnya di banyak titik jalanan Buah Batu, terdapat tempat tongkrongan anak muda nya.. Meskipun sekarang sudah tidak begitu terkenal bagi tempat nongkrong anak muda sih. Tapi, setiap hari saya lewat jalan Buah Batu menuju kampus, jalan ini memang selalu macet! :| (apa hubungannya?)

Tapi untuk saat ini, saya bukan mencari tempat nongkrong, tapi mau makan! :) meski bukan restoran, cuma pedagang kaki lima, namun tempat ini recommended banget jika blogger sekalian berkunjung ke Bandung!

Terletak di Jalan Buah Batu, persis didepan Griya Buah Batu, puluhan pedagang kaki lima berjejer memadati trotoar yang berada disepanjang jalan Griya Buah Batu tersebut. Aneka makanan seperti Cimol: Aci Digemol (tepung aci dibulatkan) Cireng: Aci Digoreng, Gehu Pedas, dan masih banyak lagi menjadi pilihan para konsumen untuk berburu makanan disini. Kebetulan! Sewaktu-waktu saya sering mampir untuk membeli makanan seperti cimol atau cilok: aci dicolok (Aci yang Ditusuk) namun sering terlintas untuk membeli makanan yang berada persis disebelah gerobak cimol. yaitu Mie Golosor.

Mie Golosor

Mie Golosor

Kenapa terpikir untuk mencoba Mie Golosor? Soalnya banyak banget orang yang berjejal memadati gerobak Mie Golosor. Sangat kebetulan, saat saya mampir ke Mie Golosor, tempatnya sedang sepi! Saya sering malu kalau mau mampir kesana, mungkin itu yang menyebabkan saya selalu mengurungkan niat jika akan membeli kesana. Habis yang beli kebanyakan Mahmud (mamah muda) :P

Mie Golosor. Jika diartikan kedalam Bahasa Sunda, “Golosor” itu berarti “Gelincir” kalau Bahasa Inggrisnya berarti “Slide” kenapa namanya harus Mie Golosor ya? Saya memesan 1 porsi Mie Golosor.

Yummy! :mmm:

Yummy!

Setelah makan, barulah mengerti, kenapa pedagangnya menamai Mie Golosor. Makanan ini didominasi oleh mie aci, yang saya tau sih, mie aci itu terkenal di Cianjur. Kini hadir disini, di PKL Mie Golosor Buah Batu Bandung! :P Begitu santapan pertama, mie aci langsung “tergelincir” masuk ke tenggorokan. Tidak butuh digigt, hanya tinggal “sluruuup” dan mie pun tergelincir kedalam! :D Komponen yang terdapat didalam Mie Golosor ini berupa daun kol, telur, bawang, cabe rawit, dan makroni lembek. Pertama kali mencoba, jujur! Enak! (atau emang saya yang suka ama segala jenis makanan ya? :P ) kuahnya kental, dan tercium sedikit rasa amis dari telurnya. Namun itulah yang membuat enak (menurut saya).

Saat memesan, saya ditawari level pedas yang saya mau. Ada sedang, pedas, dan setan, saya pastinya memilih sedang, soalnya saya tidak terlalu suka makanan pedas! :( Pemilik dagangan Mie Golosor merupakan suami istri. Mereka akan dengan senang hati diajak mengobrol. Dan, saya beranikan diri juga untuk mengobrol! Istri sang pemilik Mie Golosor menceritakan, kalau siang memang tidak terlalu banyak orang yang datang, karena Mie Golosornya sendiri panas banget, ditambah cuaca Bandung yang sekarang-sekarang ekstrim banget panasnya. Konsumen lebih banyak datang ketika hujan, atau malam hari dan di dominasi ibu-ibu! Beliau bercerita, kalau konsumen yang langganan kesana sering berebut tempat duduk, sampai-sampai, ada juga lho yang sengaja bawa kursi dari rumah! Hmmm… Memang saya yang aneh kali ya, panas-panas malah makan mie yang panas! :P

Satu porsi Mie Golosor, hanya dihargai Rp5000,- saja! Wow! Juga terdapat beberapa snack yang digunakan sebagai topping Mie Golosor. Semua snack nya seharga Rp500,-/bungkus.

Sambil menikmati Mie Golosor, saya memesan minuman ke gerobak sebelah. Cuaca panas memang cocok minum es kelapa muda! Adem banget!

Es Kelapa Muda

Es Kelapa Muda

Satu gelas es kelapa muda, hanya dihargai Rp3000,-. Cocok banget buat para backpacker yang ingin menghemat biaya! :mrgreen: setelah kenyang, saya langsung meluncur ke rumah. Sambil memikirkan kira-kira tempat apa lagi yaa yang belum saya jamahi di Bandung? Will see! ;)



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.