Backpackeran Sendiri? Why Not!


Self shoot! (Tema artikel ini "Jomblo Travelling) :(

Self shoot! (Tema artikel ini “Jomblo” Travelling)😦

Buat para backpacker mania, pasti memiliki cara tersendiri untuk menuntaskan setiap hasratnya dalam berplesir. Termasuk dalam memilih partner. Tapi, pernahkah membayangkan untuk pergi backpacking sendiri? Tanpa partner dari mulai pergi, sampai pulang lagi kerumah?

Obrolan sore hari membawa saya untuk membuat artikel ini:

“Kenapa harus sendiri? Berani banget! Perginya gimana? Nginep nya dimana?”

Alasan! Hal yang membuat saya memberanikan diri untuk pergi melancong sendirian. Saya termasuk orang yang paling tidak tahan dengan berbagai alasan yang dikemukakan oleh teman saya, jika saya ajak teman tersebut untuk nge-trip. Padahal saya sudah mengajak dia/mereka untuk menabung dan prepare, namun setelah mendekati hari keberangkatan, tiba-tiba dia/mereka tidak dapat memenuhi janjinya, dengan alasan yang beragam.😦

Berlibur sendirian, atau yang lebih populer disebut dengan solo backpacking memang banyak memberikan kepuasan tersendiri. Mulai dari pengalaman, tantangan, manajemen, hingga kepuasan yang sulit dikemukakan dari hasil solo backpacking. Contoh simpel nya adalah, menikmati pemandangan. Sepanjang perjalanan, jika kita pergi bersama teman dalam nge-trip, mungkin kita akan menghabiskan waktu sepanjang perjalanan dengan mengobrol. Namun jika kita melakukan solo backpacking, perhatian kita akan lebih terfokus untuk menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Tentunya hal ini meningkatkan kualitas berlibur yang benar-benar dibutuhkan untuk menghilangkan penat, bukan?😉

Pengalaman pertama dan salah satu yang mengesankan saya dalam solo backpacking adalah pergi ke Kota Malang! Hal itu saya lakukan karena saya ‘sakau’ merasakan kerupuk salak yang hanya bisa saya temui di Kota Malang. Setelah sampai di stasiun Malang, saya mandi di WC stasiun, numpang di kantor polisi untuk ikut bermalam, ikut menghabiskan air di pom bensin yang saya temui, hingga merepotkan (meminjam motor) dan membuat ricuh (ikut tidur) indekos teman saya yang kuliah di Brawijaya! Semua itu terjadi dalam kurun waktu 3 hari 3 malam dan sendirian! Pengalaman yang tidak pernah saya lupakan, sekaligus menjadi motivasi bahwa sendiri itu tidak buruk sama sekali! Dan juga, bisa saya sombongkan kepada teman-teman saya yang lain, jika mereka membahas pengalaman vacation mereka! Hahaha:mrgreen:

Namun bukan karena dalam rangka pergi berlibur sendiri, kita jadi mengabaikan faktor keamanan dan kenyamanan selama perjalanan. Tidak! Dengan memilih pergi nge-trip sendiri, berarti kita telah berkomitmen dengan diri sendiri dan orang yang kita sayangi/orang yang menyayangi kita, bahwa hal yang akan kita lakukan selama perjalanan berlangsung, mungkin akan membahayakan diri kita sendiri. Tapi tenang, itulah keuntungan ‘manajemen’ yang telah saya sebut diatas! Berikut saya berikan tips yang pernah saya pergunakan sendiri selama solo backpacking, dan semoga berguna bagi backpackers sekalian yang berniat untuk melakukan solo backpacking.🙂

Jangan takut! Do it! Sumber

Jangan takut! Do it! Sumber

PERSIAPAN MENTAL

Fears won’t lead you to get anything you want.. Begitulah anonim mengatakan, bahwa rasa takut tidak akan menuntunmu untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan. Ingat, perjalanan sendiri membutuhkan keberanian yang tinggi. Kita akan berjalan melewati gang-gang, berjalan melewati malam, menyewa penginapan, berkerumun dengan banyak orang yang tidak kita kenal, membeli keperluan yang kita butuhkan, bertanya kepada orang sekitar, dan yang lainnya, semua kita lakukan sendiri.

Kenapa harus malu? Sumber

Kenapa harus malu? Sumber

PROSES INTERAKSI

Manusia sebagai mahluk sosial pastinya membutuhkan interaksi dengan manusia lain untuk memenuhi kebutuhan dirinya. Interaksi diperlukan terlebih karena kita bepergian sendiri, otomatis kita akan membutuhkan informasi lain dari penduduk sekitar. Jangan malu untuk melakukan interaksi sepanjang perjalanan, baik di angkutan transportasi, kota tujuan, tempat makan, pihak keamanan setempat sampai warga. Jangan malu untuk berinteraksi, lakukan persiapan dini sebelum melakukan solo backpacking semisal mengobrol dengan kernet bus angkutan kota di tempat asal kita, bertanya kepada satpam komplek rumah, hingga hal lain yang dapat meningkatkan kualitas interaksi kita dengan orang lain.

Realtime Update! Sumber

Realtime Update! Sumber

MENDAPATKAN INFORMASI

Say thank you to technology! Hari gini, mendapatkan informasi bisa didapatkan dengan mudah dan cepat, dimana saja dan kapan saja (tergantung operatornya juga sih :P) Cari informasi yang kita butuhkan selama kita bepergian, dari mulai informasi transportasi, hotel, tempat makan, tempat wisata, tempat souvenir, pasar, dan yang lainnya. Disamping itu, jangan lupa untuk melakukan pencarian informasi secara konvensional (bertanya kepada warga dan pihak keamanan setempat) karena selain informasi yang kita dapatkan di internet, yang kadang kurang relevan dengan kondisi kita saat nge-trip, hal ini juga meningkatkan proses interaksi yang saya sebutkan diatas.

Sing penting.. Wait! What?

Sing penting.. Wait! What?

TINGKATKAN KEWASPADAAN

Jangan pernah lengah! Api tidak akan membakar kayu bakar jika kayu bakar tersebut tidak diletakkan didekatnya. Tindakan kriminalitas dapat terjadi dimana saja dan bagaimanapun caranya. Hindari hal ini dengan tidak mempertontonkan kekayaan yang kita miliki sepanjang perjalanan. Jangan juga terlalu fokus terhadap suatu objek tertentu (misalkan pertunjukan) dan mengabaikan pengawasan kita akan keamanan. Alih-alih mendapatkan apa yang kita inginkan, yang ada malah kita dijambret orang.😦 jangan terlalu sering menggunakan gadget sepanjang perjalanan, gunakan ketika kita anggap itu perlu. Usahakan menyimpan uang ditempat yang terpisah. Pengalam saya dalam manajerial kewaspadaan perihal uang adalah, saya menyimpan uang receh (yang akan digunakan untuk membayar makan, membayar tiket wisata, membayar moda transportasi) di saku celana. Sementara uang utama (yang digunakan untuk membayar penginapan, tiket kereta, membeli souvenir) saya simpan didalam dompet. Penyimpanan dompet pun tidak pernah saya simpan di saku celana belakang, melainkan di ransel. Dan untuk meningkatkan kewaspadaan, saya menyimpan uang cadangan didalam kaos kaki sepatu saya. (untuk kondisi ekstrim yang belum pernah coba adalah menyimpan uang cadangan di balik celana dalam!😆 )

Hmmm... :|

Hmmm…😐

PATUHI PERATURAN

Beda kota, beda bahasa, beda kebiasaan, dan beda budaya. Patuhi peraturan yang dimiliki suatu objek wisata, atau kebudayaan yang dimiliki oleh daerah yang kita tuju. Guna mendukung liburan yang menyenangkan, saya rasa hal ini cukup mudah dilakukan, meskipun kebanyakan mungkin mengabaikan peraturan ini. Jangan lupa untuk meminta izin kepada warga sekitar, misalnya, apakah kita boleh mengambil gambar di suatu objek wisata? Apakah kita boleh berkunjung kesana sendiri? Ada banyak tempat wisata yang melarang pelancong melakukan sesuatu tanpa izin, jadi jangan ingkari peraturan yang ada. Tidak mau kan, kejadian Waisak di Borobudur terulang, akibat dari orang yang tidak mematuhi peraturan?😉

Tinggalkan jejak! Sumber

Tinggalkan jejak! Sumber

TINGGALKAN JEJAK

Jangan sampai di cap sebagai sosok individu yang tidak bertanggung jawab karena kita tidak memberi tahu orang, kemana kita akan pergi. Film 127 Hour yang dibintangi oleh James Franco dapat diambil intisari, betapa berharganya berpamitan dengan orang yang kita kenal. Proses meninggalkan jejak ini juga dapat meningkatkan keamanan dan kenyamanan kita selama bepergian. Secara tidak sadar, orang yang kita tinggalkan mungkin akan mendo’akan kita agar selamat sampai tujuan, dan kembali dengan keadaan selamat pula. Juga, untuk menghindari kita dari bencana “nyasar”, usahakan mengabari orang yang kita kenal setiap kita mau pergi ke objek wisata (misalkan pergi ke pantai yang jauh dari keramaian) update di jejaring sosial juga boleh! Pergunakan fasilitas facebook, twitter, foursquare, atau path. Selain itu, tinggalkan jejak terhadap warga sekitar jika kita ingin pergi ke tempat yang berpeluang untuk kesasar! hehehe😛

Manajemen barang

Manajemen barang. Sumber

MANAGERIAL SUMBER DAYA

Masih dalam konteks “pergi sendiri, apapun sendiri”, hal yang kita lakukan pastinya sendiri. Berarti, kita akan menyewa penginapan dengan biaya seorang diri, barang bawaan kita dipergunakan oleh sendiri, keperluan obat sendiri, dan lain sebagainya. Usahakan menyimpan barang bawaan didalam satu ransel sekaligus, tanpa ada sesuatu yang di jinjing atau digantungkan di leher. Hal ini akan menghindarkan kita dari kejahatan. Bawa barang seperlunya dengan melakukan estimasi, misalnya kita akan pergi ke suatu daerah selama 3 hari, kita akan mandi sebanyak 6 kali, berarti kita membutuhkan 6 pasang pakaian (misalnya! :P) Jangan terlalu hedon! Pergunakan uang dengan bijak, kita tidak tahu hal apa yang akan terjadi selama bepergian.

Last but not least, serahkan semua takdir kepada tuhan YME. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, namun demikian, kita telah merencanakan dan berharap semoga semuanya berjalan sesuai ekspektasi.🙂 Semoga artikel ini dapat membantu teman-teman yang akan melakukan solo backpacking! Salam ransel!😀

23 thoughts on “Backpackeran Sendiri? Why Not!

  1. traveling sendiri bukan berarti kesepian sih hee, saya sering traveling sendiri, tapi gak jarang juga rame – rame. tergantung mood sih. kalau lagi galau pasti traveling sendiri akakaka😀

  2. subhanaAllah keren bingit… saya boleh tanya mas ada tambahan tips gak jika kita mau nge-solo backpacking tapi g ada link di tempat itu? suwun🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s