Somethings that I don’t know why


Akhir-akhir ini saya sering berpikir. Melamun sendiri, tanpa tahu sebenarnya apa yang menyebabkan saya terlarut dalam lamunan tersebut. Pikiran saya bercabang, memikirkan kuliah, memikirkan orang tua, memikirkan pelabuhan hati. Jujur, saya sering kali galau memikirkan hal-hal yang disebutkan diatas. Alternatif yang bisa saya lakukan hanya lari, lari dari semua itu.

Sabtu, 4 mei 2013, setelah saya mengikuti ujian praktikum di kampus, saya memutuskan untuk kabur dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. Saya pergi ke Gunung Puntang, Kecamatam Cimaung, Kabupaten Bandung. Jaraknya tidak terlalu jauh dari lokasi rumah saya (Kecamatan Banjaran), hanya sekitar 20 kilometer, saya menggunakan transportasi angkot dari terminal Banjaran. Tanpa planning yang jelas, hanya alasan yang membuat saya memutuskan untuk pergi berkemah sendiri: Lari!

Di perjalanan angkot menuju Gunung Puntang, saya bertemu dengan seorang pria, mungkin umurnya 40 tahun, saya pikir. Beliau mengenalkan diri, namanya Iwan, berasal dari Majalengka. Dengan membawa tas carrier, pria itu terlihat sedang memikirkan sesuatu. Tanpa mau mengintervensi, saya hanya mengobrol ringan dengan pria tersebut. Kami pun memutuskan untuk pergi bersama, terlebih beliau juga pergi sendiri.

Setelah sampai di lokasi, kami langsung mencari tempat yang memungkinkan untuk didirikan tenda. Kami memutuskan untuk mendirikan tenda di dekat kolam cinta, di sekitar lokasi pendirian tenda kami, telah berdiri 2 tenda, masing-masing ditempati oleh 2 laki-laki dan 2 perempuan berkerudung. Mungkin teman kuliah atau kerjanya, saya pikir. Kami pun meminta izin untuk mendirikan tenda didekat kedua tenda tersebut. Dan dari sinilah pelajaran yang saya dapatkan bermula.

Jam telah menunjukkan pukul 3 sore, tidak ada tanda-tanda HP saya berdering atau berkedip merah. Menanti orang yang saya tunggu untuk memberi kabar melalui LINE Messenger atau Blackberry Messenger. Sudah 2 minggu! Keluh saya, saya pun tidak memberanikan diri untuk duluan menyapa, memang apa yang saya lakukan? Berdiam diri? Tidak! Selama selang waktu 2 minggu saya menunggu, saya telah mencoba menanyakan, kemana gerangan dia pergi. Namun kali ini cukup! Saya pun keluar dari tenda, sejenak melupakan keluh kesah ketidakjelasan orang yang saya tunggu.

Pak Iwan sedang mengobrol dengan kedua perempuan tadi, namanya Rina dan Syifa. Mereka berasal dari Tasik, namun berkuliah di Bandung. Alasan mereka datang ke Gunung Puntang karena sedang tidak ada kegiatan di kampus. Ternyata saya salah taksir, mereka merupakan mahasiswi angkatan 2011, setahun lebih muda dari saya. Kamipun melanjutkan mengobrol, mulai dari menceritakan sudah berapa lama mereka di gunung, mereka pergi ke tempat ini dari sabtu pagi, kemudian menceritakan daerah asal Rina dan Syifa, kegiatan kuliah kegiatan kampus, pak iwan pun sedikit ‘menyentil’ urusan asmara mereka. Saya hanya tersenyum, dan kembali mengingat dia, salah satu alasan yang membuat saya pergi ke tempat ini.

Selang beberapa menit, kedua laki-laki yang mendirikan tenda di sebelah kami pun datang. Mereka baru pergi dari warung membeli rokok. Mereka mengenalkan diri mereka, Firman dan Satria asal Bandung, keduanya adalah teman sekampus di Jogja. Dan baru bertemu lagi setelah 2 tahun berpisah karena Firman bekerja di Kalimantan dan Satria bekerja di Jakarta. Kami mulai membaur dan menceritakan pengalaman masing-masing mengenai gunung. Ternyata bila dibandingkan dengan mereka, pengalaman saya mengenai gunung mungkin baru 2 kali, namun mereka telah hilir mudik naik turun gunung minimal 5 kali. Begitupun Rina, terakhir Rina mengaku naik gunung Gede Pangrango, sementara Syifa memang baru pertama kali. Saya hanya menceritakan pengalaman backpacking saya, yang bisa jadi kebanggaan bahwa saya pernah pergi ke Kota Malang hanya sendiri!:mrgreen:

Malam mulai tiba, kami berencana membuat hidangan makan malam berdasarkan bahan makanan yang kami bawa. Saya mengeluarkan beras dan ikan yang saya beli sebelum pergi. Kami pun bekerja sama untuk membuat makanan, dengan koki utama Syifa dan Rina, sementara kami hanya membantu jika dibutuhkan!đŸ˜› suasana makin akrab setelah hal lucu terjadi, ketika akan membuat telur dadar, salah satu telur yang akan dibuat merupakan telur busuk, telur busuk itu tumpah diatas nasi yang telah jadi. Padahal tadinya telur tersebut akan digunakan untuk membuat nasi goreng.

Semakin malam, kami semakin terlarut dalam obrolan. Pak Iwan mulai menceritakan alasan utama kenapa dia pergi ke gunung.

“Istri saya ingin bercerai dengan saya..”

Suasana langsung hening mendengar pernyataan pak Iwan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s